Quietlarder
Benda diam di meja jati gelap dekat jendela: kendi tanah liat, seekor ikan kembung, cabai dan bawang merah di atas daun pisang, tiga jeruk limau, dan setandan pisang raja berbintik.

Benda diam yang biasanya keburu dimakan.

Paramitha Ayuningtyas memotret dan memfilmkan masakan Indonesia dengan cahaya jendela, tanpa lampu kilat. Tiga seri sudah tergantung. Seri keempat, Sisa, sedang dipotret: satu bingkai baru tiap dua minggu.

Lihat karya

QL 2.01

Belanjaan, Belum Dicuci, 2025

pisang raja, jeruk limau, ikan kembung, kendi, cahaya jendela pukul 06.50

Dari seri Pasar Jam Lima. Dua benda menolak tinggal di dalam bingkai.

Ruang 1

Karya

Delapan belas bingkai selesai dalam tiga seri. Tujuh tergantung di ruang ini, satu di dinding depan, sisanya tercatat di daftar. Pilih satu judul untuk menyorot serinya.

Semua seri disorot.

Dua ketupat tergantung di paku, tiga lagi di meja dengan satu sudah dibelah, semangkuk opor ayam dengan telur, dan sepiring kecil sambal goreng.

QL 1.02

Satu Sudah Dibelah, 2024

ketupat, opor ayam, sambal goreng, satu paku, cahaya jendela pukul 09.20

Ulasan opornya

Tiga toples kaca berisi nastar, kastengel, dan putri salju di atas taplak rajut putih, dengan segelas sirup merah dan dua nastar di piring kecil.

QL 1.05

Toples yang Terlalu Bersih, 2024

nastar, kastengel, putri salju, sirup merah, taplak rajut, cahaya jendela pukul 10.05, sidik jari tambahan

Ulasan isi toplesnya

Tampah bambu tampak atas berisi tempe berbungkus daun, bawang merah, bawang putih, kunyit, lengkuas, kacang panjang, cabai merah, serai, dan garam kasar.

QL 2.06

Isi Tampah, 2025

tempe, bawang merah, kunyit, lengkuas, kacang panjang, garam krosok, cahaya jendela pukul 06.15. Tiga cabai jatuh waktu digantung.

Ulasan tempenya

Tiga ikan kembung digantung dengan tali di paku; di meja bawahnya seekor lagi di atas daun pisang dan es, separuh jeruk limau, dan pisau dapur tua.

QL 2.03

Tiga Digantung, Satu Menunggu, 2025

ikan kembung, tali, es yang kalah cepat, daun pisang, cahaya jendela pukul 05.40. Yang kelima tidak kebagian tempat.

Ulasan ikannya

Semangkuk pindang kembung berkuah kuning di atas daun pisang, setumpuk kerupuk udang di piring kecil, kendi, dan dua cabai merah di meja jati gelap.

QL 3.01

Pindang, Jendela Kiri, 2026

pindang kembung kuah kuning, kerupuk udang, daun pisang, kendi, cahaya jendela pukul 06.40

Lihat piring ini dalam empat cahaya

Mangkuk kecil soto ayam berkuah kuning dengan separuh telur dan uap tipis, piring kecil berisi jeruk nipis dan sambal, sendok, dan serbet kotak-kotak.

QL 3.04

Uap Terakhir, 2026

soto ayam, separuh telur, jeruk nipis, serbet, uap asli, cahaya jendela pukul 07.10

Ulasan sotonya

QL 4.02

Paku Kosong, 2026

satu paku baja, dinding. Bingkai kedua seri Sisa digantung di sini begitu jadi.

Kabari saya saat terisi

Mangkuk enamel berisi sayur asem dengan jagung, kacang panjang, dan melinjo; sepiring nasi dengan ikan asin, sambal terasi, dan beberapa polong asam jawa.

QL 3.03

Sayur Asem Menunggu Nasi, 2026

sayur asem, nasi, ikan asin, sambal terasi, asam jawa, cahaya jendela pukul 11.30

Ulasan sayur asemnya

Daftar periksa

Nomor katalog dibaca seri, titik, bingkai. Judul yang bergaris bawah tergantung di halaman ini; yang lain ada di arsip studio.

Meja Lebaran Seri 1, 2024

  1. 1.01Meja Sebelum Tamu
  2. 1.02Satu Sudah Dibelah
  3. 1.03Rendang Hari Ketiga
  4. 1.04Sirup, Belum Ada yang Minum
  5. 1.05Toples yang Terlalu Bersih
  6. 1.06Piring Tumpuk Selepas Magrib

Pasar Jam Lima Seri 2, 2025

  1. 2.01Belanjaan, Belum Dicuci
  2. 2.02Kangkung Seikat, Tali Rafia
  3. 2.03Tiga Digantung, Satu Menunggu
  4. 2.04Tahu dalam Air
  5. 2.05Kelapa Parut Pukul Lima
  6. 2.06Isi Tampah
  7. 2.07Kantong Kresek sebagai Kain Latar

Kuah Seri 3, 2026

  1. 3.01Pindang, Jendela Kiri
  2. 3.02Rawon Tidak Memantulkan Apa-apa
  3. 3.03Sayur Asem Menunggu Nasi
  4. 3.04Uap Terakhir
  5. 3.05Opor, Setelah Satu Jam

Ruang 2

Empat cahaya, satu piring

Pindang kuah kuning yang sama, dipotret empat kali dalam satu hari. Tidak ada yang digeser kecuali cahayanya. Putar, lalu lihat apa yang terjadi pada kuah, kerupuk, dan daunnya.

Pindang kuah kuning dalam cahaya pagi dari kiri: kuah bening, kerupuk bertepi tajam, daun pisang hijau tua. Susunan yang sama dalam cahaya siang dari atas: lebih terang dan rata, minyak kuah berkumpul di tepi. Susunan yang sama dalam cahaya sore dari kanan: kuah keemasan, bayangan panjang jatuh ke kiri. Susunan yang sama diterangi satu lilin: semuanya jingga gelap, daun hampir hitam.

Pagi, jendela kiri

Pukul 06.40. Bingkai inilah yang masuk katalog sebagai QL 3.01.

Kuah
Bening. Dasar mangkuk masih kelihatan dan kunyitnya belum naik.
Kerupuk
Baru keluar dari kaleng. Tepinya tajam, bayangannya juga.
Daun
Hijau tua. Uratnya terbaca satu per satu.

Teks dinding, seri Kuah

Kuah tidak mau diam

Benda diam punya satu janji: bendanya diam. Pisang menepatinya selama tiga hari. Kuah tidak pernah, bahkan selama satu jam.

Saya memotret dengan cahaya jendela, jadi satu bingkai butuh waktu. Rana terbuka setengah detik, kadang dua. Sebelum itu ada empat puluh menit menggeser mangkuk dua jari ke kiri, lalu dua jari ke kanan lagi. Selama itu kuah bekerja sendiri. Minyaknya naik dan berkumpul di tepi. Santannya membentuk kulit (gbr. 1). Uapnya habis tepat ketika saya akhirnya suka pada letak sendoknya (gbr. 2).

Dulu saya melawan. Di seri Meja Lebaran, opor saya panaskan ulang tiga kali supaya tetap mengilap. Hasilnya opor yang tampak seperti gambar di kardus panci. Yosef, yang memegang reflektor dan jarang berkomentar, bilang kuahnya kelihatan gugup. Ia benar.

Di seri Kuah saya berhenti melawan. Aturannya sederhana: kuah dituang sekali, lalu saya memotret apa pun yang terjadi sesudahnya. Pindang kuning ternyata paling sabar. Kuahnya encer, jadi tidak berkulit, dan warnanya menua dengan baik sampai sore. Kamu bisa melihatnya sendiri di Empat cahaya. Rawon tidak berubah sama sekali, tapi rawon juga tidak memantulkan apa-apa, jadi memotretnya seperti memotret sumur. Opor paling cepat menyerah. Setelah dua puluh menit permukaannya keriput, dan di situ ia mulai menarik. Episode 5 merekam empat puluh menit itu hampir tanpa potongan.

Aturan itu mengubah cara kami bekerja. Kompor pindah ke sebelah meja potret, supaya jarak dari panci ke bingkai cuma empat langkah. Yosef mencatat menit tuang dengan kapur di lantai. Saya berhenti membawa pipet, kuas minyak, dan semprotan air, tiga alat yang dulu selalu ada di saku celemek.

Lima bingkai itu mengajari saya membaca perubahan sebagai keterangan. Kulit di atas opor membuktikan santannya sungguhan. Minyak yang menepi menunjukkan sudah berapa lama mangkuk itu menunggu. Kalau kamu melihat foto kuah yang permukaannya licin sempurna, kemungkinan seseorang baru saja mengaduknya, atau itu memang tidak pernah berupa kuah.

Ada akibatnya di lidah. Makanan yang menunggu satu jam di depan kamera tidak sama dengan makanan yang baru diangkat, dan saya memakan dua-duanya. Itu sebabnya tiap hidangan di sini mendapat dua putusan, satu untuk kamera dan satu untuk lidah. Pindang lulus di keduanya. Opor lulus di kamera dan kalah di lidah: setelah satu jam ia lebih enak dilihat daripada dimakan. Putusan lengkapnya ada di lembar Di kamera, di lidah.

Bingkai kedua seri Sisa tidak punya kuah sama sekali, hanya mangkuk bekasnya. Garis minyak di dinding mangkuk itu masih menunjukkan sampai mana kuahnya pernah berdiri.

Permukaan opor dari dekat: kulit santan yang keriput, minyak jingga di tepi mangkuk, dan jejak bersih bekas sendok.
gbr. 1 Opor, menit kedua puluh. Kulitnya asli. Masuk katalog sebagai QL 3.05, Opor, Setelah Satu Jam.
Mangkuk kuah kuning dengan kolom uap yang terkena cahaya jendela, jam weker tanpa angka, kain abu, dan dua kerupuk yang mulai lembek.
gbr. 2 Uap, tiga menit sebelum habis. Jamnya sengaja tanpa angka supaya tidak ada yang menghitung.

Catatan pendek

Kenapa tanpa lampu kilat

Paramitha Ayuningtyas, 17 September 2026

Dengan lampu kilat, opor tampak siap disajikan pukul berapa pun. Dengan cahaya jendela, kelihatan bahwa ia dimasak pukul sembilan dan sekarang sudah pukul sepuluh. Saya memilih yang kedua, walau harus menunggu awan lewat.

Buktinya di Empat cahaya

Kerupuk punya dua belas menit

Yosef Lema, 3 September 2026

Di udara dapur kami, kerupuk udang mulai melengkung pada menit kedua belas. Saya menyimpan satu kaleng cadangan di luar bingkai dan menggantinya diam-diam. Paramitha tahu. Ia pura-pura tidak.

Nasib kerupuknya di ulasan

Seri keempat: Sisa

Paramitha Ayuningtyas, 8 Oktober 2026

Tiga seri pertama memotret makanan sebelum dimakan. Sisa memotret meja sesudahnya: tulang ikan dan gelas berbekas bibir. Bingkai pertama sudah jadi. Yang kedua dipotret minggu ini.

Minta dikabari

Ruang 3, ruang putar

Satu Bingkai

Lima episode, sembilan sampai empat belas menit. Tiap episode membangun satu bingkai dari pasar sampai rana ditekan. Musik baru masuk setelah bingkainya jadi.

Dua tangan memutar mangkuk pindang di atas daun pisang; di depan, kamera di tripod tampak dari belakang, dan papan reflektor putih berdiri di ujung meja.

Dua tangan, satu mangkuk, tiga derajat ke kiri.

Program putar

  1. Episode 1: Pasar Jam Lima Kurang Sepuluh

    Belanja untuk satu bingkai. Tiga ekor kembung dipilih karena matanya, satu karena kasihan.

    Durasi 11.20
  2. Episode 2: Ketupat Tidak Bisa Diatur

    Dua digantung di paku, tiga dibiarkan jatuh sendiri. Yang dibelah ditentukan lewat undian.

    Durasi 9.40
  3. Episode 3: Satu Mangkuk, Empat Kali

    Pindang kuning dari pukul 06.40 sampai lilin dinyalakan. Bahan mentah untuk Empat cahaya.

    Durasi 13.50
  4. Episode 4: Toples yang Terlalu Bersih

    Yosef mengelap toples selama enam menit. Paramitha lalu menambah sidik jari.

    Durasi 10.15
  5. Episode 5: Empat Puluh Menit Menunggu Opor

    Rekaman kulit santan terbentuk, hampir tanpa potongan. Pasangan tulisan Kuah tidak mau diam.

    Durasi 12.30

Ruang 4, lembar ulasan

Di kamera, di lidah

Tiap hidangan yang dipotret dinilai dua kali oleh orang yang sama. Di kamera: bagaimana ia bertahan satu jam di set tanpa disentuh. Di lidah: bagaimana rasanya setelah satu jam itu, dimakan apa adanya, tanpa dipanaskan.

Tidak ada angka. Ini pendapat Paramitha sendiri, dan ia yang memasak sebagian besar hidangannya, jadi anggap ia tidak netral. Kolom terakhir mencatat nasib piringnya.

Habis di set Habis separuh Dibungkus kru

Delapan hidangan dari tiga seri, diurutkan menurut seberapa baik mereka menunggu.
HidanganDi kameraDi lidahNasib piring
Pindang kembung kuah kuningQL 3.01

Paling sabar. Kuahnya tidak berkulit dan warnanya menua jadi emas menjelang sore.

Dingin pun asamnya masih berdiri. Ikannya sedikit mengeras. Kerupuknya sudah lama menyerah.

Habis di set
Sayur asemQL 3.03

Jagungnya tenggelam pelan-pelan. Tiap sepuluh menit harus dipotret ulang atau direlakan.

Lebih enak dingin. Satu-satunya hidangan di daftar ini yang membaik karena menunggu.

Habis di setTidak difilmkan
Tempe bungkus daunQL 2.06

Benda diam paling patuh di seluruh arsip. Satu jam, dua jam, sama saja.

Digoreng sore itu juga. Garam krosoknya ikut dari tampah yang sama.

Habis di setTidak difilmkan
Ikan kembung segarQL 2.03

Empat puluh menit. Sesudah itu matanya mulai keruh dan esnya jadi genangan.

Digoreng Yosef begitu set bubar. Masih manis, karena pasarnya baru lewat tiga jam.

Habis di set
Nastar, kastengel, putri saljuQL 1.05

Sanggup menunggu sampai Lebaran berikutnya. Gula putri salju memantul, jadi perlu kain hitam di kanan.

Nastar tetap nastar. Kastengel melempem karena toplesnya dibuka demi foto.

Dibungkus kru
Opor ayam dan ketupatQL 1.02

Dua puluh menit, lalu berkulit. Waktu itu saya panik dan memanaskannya lagi. Jangan ditiru.

Santan dingin melapisi lidah seperti lilin. Ketupatnya menyelamatkan separuh piring.

Habis separuh
Opor, setelah satu jamQL 3.05

Dituang sekali, lalu dibiarkan. Keriputnya rapi seperti peta. Lulus, kali ini dengan sengaja.

Lihat baris di atas. Hasilnya sama. Saya tetap mencoba, demi tulisannya.

Dibungkus kru
Soto ayamQL 3.04

Uapnya habis dalam enam menit. Sesudah itu bihun mengembang dan menelan kuahnya.

Tinggal bihun basah dengan kenangan kaldu. Telurnya baik-baik saja.

Habis separuhTidak difilmkan

Di balik dinding

Studio: tangan, reflektor, jendela

Ruang kerja dengan satu jendela kayu di kiri; seorang perempuan tampak dari belakang membungkuk ke kamera di tripod, dan di kanan dua tangan mengangkat tutup panci aluminium sebagai reflektor ke arah mangkuk dan kendi di meja.
  1. Jendela

    Satu, menghadap timur laut, selebar 1,4 meter. Kacanya dilapis kertas roti. Tidak ada lampu lain di ruangan ini, termasuk lampu plafon, yang bohlamnya sudah dicopot sejak 2024.

  2. Tangan

    Paramitha Ayuningtyas memasak sebagian besar yang dipotret, menatanya, lalu menekan rana lewat kabel supaya meja tidak ikut bergetar. Wajahnya jarang ada di foto. Tangannya sering.

  3. Reflektor

    Yosef Lema, asisten cahaya, memegang tutup panci penyok bergaris tengah 40 sentimeter. Ia punya reflektor sungguhan. Tutup panci memantul lebih lembut, katanya, dan bisa dipakai menanak nasi.

QL 4.02

Belum Ada, 2026

bahan belum diputuskan. Yang pasti: meja setelah makan, dan jendela yang sama.

Kabari tiap bingkai baru

Seri Sisa bertambah satu bingkai tiap dua minggu. Tinggalkan alamat emailmu, dan kamu menerima satu surat pendek tiap kali ada yang digantung: gambarnya, labelnya, dan nasib piringnya.

Ruang 5

Dokumen

Empat teks dinding. Sengaja dibuat membosankan, dan tetap berlaku.

5.1 Privasi5.2 Ketentuan5.3 Lisensi Konten5.4 Bantuan

5.1

Privasi

Berlaku sejak 1 Oktober 2026

1Siapa yang mengelola datamu

Quietlarder Studio, Yogyakarta, adalah pengendali data untuk situs ini. Urusan privasi ditangani langsung oleh Paramitha Ayuningtyas di [email protected].

2Data yang kami simpan

Alamat email yang kamu isikan di formulir kabar bingkai baru, tanggal kamu mendaftar, dan isi surat yang kamu kirim kepada kami. Tidak ada akun, kata sandi, atau profil.

3Untuk apa dipakai

Alamat email hanya dipakai untuk mengirim kabar tiap ada bingkai baru, kira-kira dua minggu sekali. Kami tidak menyerahkannya kepada pihak lain dan tidak memakainya untuk keperluan selain itu.

4Dasar hukum

Kami memproses data atas persetujuanmu, sesuai Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Persetujuan bisa kamu tarik kapan saja lewat tautan di tiap surat.

5Video

Video diputar lewat pemutar YouTube dalam mode privasi. Pemutar baru dimuat setelah kamu menekan tombol putar, dan dibuang lagi saat jendela video ditutup. Sejak saat itu, kebijakan YouTube ikut berlaku.

6Catatan teknis

Server kami mencatat waktu kunjungan dan jenis peramban selama 30 hari untuk menjaga situs tetap berjalan. Situs ini tidak memasang pelacak pihak ketiga.

7Hakmu

Kamu berhak melihat, memperbaiki, dan menghapus datamu, serta menarik persetujuan. Tulis ke alamat di atas. Kami menjawab paling lambat 3 x 24 jam dan menghapus data paling lambat 14 hari sesudahnya.

8Perubahan

Kalau teks ini berubah, tanggal di atas ikut berubah, dan perubahan penting kami kabarkan lewat surat berikutnya.

5.2

Ketentuan

Berlaku sejak 1 Oktober 2026

1Tentang situs ini

Quietlarder adalah portofolio dan arsip kerja Paramitha Ayuningtyas: foto, film pendek, ulasan, dan tulisan. Dengan membukanya, kamu menyetujui ketentuan di bawah.

2Pemakaian yang wajar

Lihat, baca, tonton, dan bagikan tautannya sesukamu. Jangan mengganggu jalannya situs, menyedot isinya secara otomatis, atau mengaku sebagai kami.

3Ulasan adalah pendapat

Putusan di lembar Di kamera, di lidah adalah pendapat pribadi Paramitha tentang masakan yang sebagian besar ia masak sendiri. Putusan itu tidak menilai tempat makan mana pun dan tidak memberi saran gizi.

4Koreksi

Kalau kami salah menulis nama hidangan, daerah, atau bahan, beri tahu kami. Koreksi dipasang di tempat kesalahannya, lengkap dengan tanggal, dan tidak diam-diam.

5Surat dan tanggapan

Situs ini tidak punya kolom komentar. Tanggapan dikirim lewat surat. Kami hanya mengutip suratmu di tulisan setelah kamu mengizinkannya, dan boleh menolak memuat surat yang menyerang orang.

6Tautan dan layanan pihak ketiga

Satu-satunya tautan keluar ada di jendela video, menuju YouTube. Isi dan aturan di sana berada di luar kendali kami.

7Perubahan dan hukum

Ketentuan ini bisa berubah seiring bertambahnya seri. Yang berlaku adalah versi dengan tanggal terbaru. Ketentuan ini tunduk pada hukum Republik Indonesia.

5.3

Lisensi Konten

Berlaku sejak 1 Oktober 2026

1Milik siapa

Semua foto, film, dan tulisan di sini adalah ciptaan Paramitha Ayuningtyas dan Quietlarder Studio, dilindungi hak cipta. Membuka situs ini tidak memindahkan hak apa pun kepadamu.

2Yang boleh

Menyimpan gambar untuk dilihat sendiri, membagikan tautan, dan mengutip tulisan sampai dua paragraf dengan menyebut sumber. Guru dan mahasiswa boleh memakai gambar ukuran layar untuk bahan ajar.

3Yang tidak boleh

Mencetak ulang, mengunggah ulang tanpa kredit, memotong nomor katalog dari label, atau memakai gambar untuk mengenalkan produk, merek, atau tempat makan. Gambar juga tidak boleh dipakai melatih model pembuat gambar.

4Kredit yang benar

Tulis: Paramitha Ayuningtyas, Quietlarder, lalu nomor katalognya. Contoh: Paramitha Ayuningtyas, Quietlarder, QL 3.01.

5Potongan benda

Benda tanpa latar di halaman ini, seperti pisang dan ikan kembung, adalah bagian dari karya. Aturannya sama dengan foto utuh.

6Film

Episode Satu Bingkai boleh disematkan lewat pemutar aslinya. Jangan mengunduh, memotong, atau mengganti suaranya.

7Izin lain

Untuk pemakaian di luar daftar ini, tulis ke [email protected] dan sebutkan nomor katalog serta rencana pemakaiannya. Belum dijawab berarti belum diizinkan.

5.4

Bantuan

Diperbarui 1 Oktober 2026

1Gambar lambat muncul

Gambar di bawah layar pertama dimuat saat kamu menggulir ke sana. Di sambungan lambat, tunggu beberapa detik. Kalau tetap kosong, muat ulang halaman.

2Video tidak mau diputar

Pastikan perambanmu tidak memblokir pemutar YouTube. Kalau jendela video tetap gelap, pakai tautan Buka di YouTube di bawahnya.

3Memakai Empat cahaya dengan papan ketik

Tekan Tab sampai ke lingkaran cahaya, lalu tombol panah untuk memutar. Catatan tiap cahaya dibacakan oleh pembaca layar begitu berganti.

4Membaca nomor katalog

QL adalah Quietlarder. Angka pertama nomor seri, angka sesudah titik nomor bingkai. QL 2.03 berarti bingkai ketiga dari seri kedua, Pasar Jam Lima.

5Kabar bingkai baru tidak sampai

Periksa folder spam, lalu tandai surat kami sebagai aman. Surat dikirim dari [email protected], kira-kira dua minggu sekali.

6Berhenti menerima kabar

Tekan tautan berhenti di bagian bawah surat mana pun. Alamatmu dihapus dari daftar hari itu juga.

7Menemukan kesalahan

Salah nama hidangan, salah daerah, atau tautan yang salah tujuan: tulis ke [email protected] dan sebutkan nomor katalog atau judul tulisannya.

8Hal lain

Tulis ke [email protected]. Surat dibaca pada hari kerja, di antara dua sesi potret.

Trailer Satu Bingkai

Tangan memegang kabel pelepas rana di samping kamera bertripod; di belakangnya meja dengan mangkuk, kendi, dan pisang.

Buka di YouTube